Manfaat menjalankan Uposatha dan Atthasila.
Hari Uposatha, umumnya jatuh setiap tanggal 1, 8, 15, 23 dalam penanggalan bulan.
Pada hari-hari ini, umat awam yang berbakti, berusaha melatih diri dengan menjalankan Atthasila, membawa persembahan ke vihara dan mengisi waktu mereka di vihara dengan belajar dhamma dan meditasi.
Atthasila (8 sila) terdiri dari :
Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari membunuh makhluk lain)
Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan)
Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari aktivitas seksual).
* Perhatikan, ini berbeda dengan pancasila biasa, dimana hanya hubungan seks yang tidak benar, sementara dalam atthasila, sama sekali tidak melakukan aktivitas seksual.
Musavada veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berkata yang tidak benar)
Suramerayamajja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengkonsumsi minuman keras dan zat lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan)
Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari makan pada waktu yang tidak tepat). *yaitu tidak makan setelah lewat tengah hari sampai dengan esok paginya.
Nacca-gita-vadita-visukkadassana mala-gandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanathana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari menari, bernyanyi, mendengarkan musik, pergi melihat hiburan, memakai perhiasan, memakai parfum, dan memakai kosmetik)
Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berbaring di tempat yang tinggi dan mewah)
Tujuan dari melatih sila-sila diatas adalah untuk mencegah kita melakukan karma buruk dan untuk mengurangi keinginan duniawi, kemelekatan terhadap hal-hal yang memanjakan nafsu kita.
Rabu, 08 April 2015
Berbakti bukan pasrah
Berbhakti bukan pasrah
Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukanlah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri, tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.
Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan.
Sadhu! sadhu! sadhu!
Referensi:
-Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.
-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.
Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukanlah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri, tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.
Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan.
Sadhu! sadhu! sadhu!
Referensi:
-Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.
-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.
Berbakti bukan pasrah
Berbhakti bukan pasrah
Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukanlah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri, tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.
Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan.
Sadhu! sadhu! sadhu!
Referensi:
-Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.
-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.
Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukanlah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri, tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.
Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan.
Sadhu! sadhu! sadhu!
Referensi:
-Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.
-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.
Manfaat menjalankan Uposatha dan Atthasila
Manfaat menjalankan Uposatha dan Atthasila.
Hari Uposatha, umumnya jatuh setiap tanggal 1, 8, 15, 23 dalam penanggalan bulan.
Pada hari-hari ini, umat awam yang berbakti, berusaha melatih diri dengan menjalankan Atthasila, membawa persembahan ke vihara dan mengisi waktu mereka di vihara dengan belajar dhamma dan meditasi.
Atthasila (8 sila) terdiri dari :
Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari membunuh makhluk lain)
Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan)
Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari aktivitas seksual).
* Perhatikan, ini berbeda dengan pancasila biasa, dimana hanya hubungan seks yang tidak benar, sementara dalam atthasila, sama sekali tidak melakukan aktivitas seksual.
Musavada veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berkata yang tidak benar)
Suramerayamajja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengkonsumsi minuman keras dan zat lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan)
Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari makan pada waktu yang tidak tepat). *yaitu tidak makan setelah lewat tengah hari sampai dengan esok paginya.
Nacca-gita-vadita-visukkadassana mala-gandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanathana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari menari, bernyanyi, mendengarkan musik, pergi melihat hiburan, memakai perhiasan, memakai parfum, dan memakai kosmetik)
Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berbaring di tempat yang tinggi dan mewah)
Tujuan dari melatih sila-sila diatas adalah untuk mencegah kita melakukan karma buruk dan untuk mengurangi keinginan duniawi, kemelekatan terhadap hal-hal yang memanjakan nafsu kita.
Hari Uposatha, umumnya jatuh setiap tanggal 1, 8, 15, 23 dalam penanggalan bulan.
Pada hari-hari ini, umat awam yang berbakti, berusaha melatih diri dengan menjalankan Atthasila, membawa persembahan ke vihara dan mengisi waktu mereka di vihara dengan belajar dhamma dan meditasi.
Atthasila (8 sila) terdiri dari :
Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari membunuh makhluk lain)
Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan)
Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari aktivitas seksual).
* Perhatikan, ini berbeda dengan pancasila biasa, dimana hanya hubungan seks yang tidak benar, sementara dalam atthasila, sama sekali tidak melakukan aktivitas seksual.
Musavada veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berkata yang tidak benar)
Suramerayamajja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengkonsumsi minuman keras dan zat lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan)
Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari makan pada waktu yang tidak tepat). *yaitu tidak makan setelah lewat tengah hari sampai dengan esok paginya.
Nacca-gita-vadita-visukkadassana mala-gandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanathana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari menari, bernyanyi, mendengarkan musik, pergi melihat hiburan, memakai perhiasan, memakai parfum, dan memakai kosmetik)
Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berbaring di tempat yang tinggi dan mewah)
Tujuan dari melatih sila-sila diatas adalah untuk mencegah kita melakukan karma buruk dan untuk mengurangi keinginan duniawi, kemelekatan terhadap hal-hal yang memanjakan nafsu kita.
Perbuatan Baik yang sederhana
DISELAMATKAN OLEH SENYUMAN
TRUE STORY
Wendy bekerja di satu pabrik pendistribusian daging.
Suatu hari, ia pergi ke ruangan pendingin daging utk memeriksa sesuatu. Sayangnya, nasib buruk menimpanya. Pintu ruangan itu menutup dan ia pun terkunci di dalamnya tanpa seorangpun yg melihatnya. Karena ruangan pendingin daging itu kedap udara, maka yg di luar tdk mungkin mendengar teriakan dari dlm ruangan itu.
5 jam kemudian, saat Wendy berada di ambang kematian karena kedinginan, penjaga keamanan pabrik membuka pintu dan menyelamatkan nyawanya.
Wendy meminta penjaga keamanan itu menceritakan padanya bagaimana ia bisa membukakan pintu ruangan pendingin daging itu, karena pekerjaan itu bukan bagian dari rutinitas pekerjaannya.
Penjaga keamanan itu menjelaskan begini: "Setiap hari ratusan pekerja datang dan keluar, tetapi anda adalah salah satu dari sedikit orang yg selalu menyapa dan memberi salam kepada saya di pagi hari ketika datang dan setiap malam ketika hendak meninggalkan tempat ini setelah jam kerja usai.
Banyak yg memperlakukan saya seolah2 saya tidak terlihat. Hari ini, seperti biasanya, anda menyapa dan memberi salam kepada saya saat masuk kerja. Tetapi setelah jam kerja berakhir, saya belum mendengar salam dan ucapan selamat tinggal dari anda.
Oleh karena itu saya memutuskan untuk memeriksa di sekitar pabrik. Saya masih berharap mendengar salam dan kata 'Hai' atau 'Bye' dari anda seperti biasa setiap harinya. Karena tdk mendengar kata salam anda itu, saya tahu sesuatu telah terjadi. Lalu, saya berusaha mencari dan menemukan anda.
What a simple "salam" and 'hello' could lead to million things !!!
Takkan mahal harga dan habis waktu hanya beberapa detik untuk sekedar saling menyapa.
Tanpa pernah mem-beda2kan manusia dgn status sosialnya.
Mari ramah pada semua orang.
TRUE STORY
Wendy bekerja di satu pabrik pendistribusian daging.
Suatu hari, ia pergi ke ruangan pendingin daging utk memeriksa sesuatu. Sayangnya, nasib buruk menimpanya. Pintu ruangan itu menutup dan ia pun terkunci di dalamnya tanpa seorangpun yg melihatnya. Karena ruangan pendingin daging itu kedap udara, maka yg di luar tdk mungkin mendengar teriakan dari dlm ruangan itu.
5 jam kemudian, saat Wendy berada di ambang kematian karena kedinginan, penjaga keamanan pabrik membuka pintu dan menyelamatkan nyawanya.
Wendy meminta penjaga keamanan itu menceritakan padanya bagaimana ia bisa membukakan pintu ruangan pendingin daging itu, karena pekerjaan itu bukan bagian dari rutinitas pekerjaannya.
Penjaga keamanan itu menjelaskan begini: "Setiap hari ratusan pekerja datang dan keluar, tetapi anda adalah salah satu dari sedikit orang yg selalu menyapa dan memberi salam kepada saya di pagi hari ketika datang dan setiap malam ketika hendak meninggalkan tempat ini setelah jam kerja usai.
Banyak yg memperlakukan saya seolah2 saya tidak terlihat. Hari ini, seperti biasanya, anda menyapa dan memberi salam kepada saya saat masuk kerja. Tetapi setelah jam kerja berakhir, saya belum mendengar salam dan ucapan selamat tinggal dari anda.
Oleh karena itu saya memutuskan untuk memeriksa di sekitar pabrik. Saya masih berharap mendengar salam dan kata 'Hai' atau 'Bye' dari anda seperti biasa setiap harinya. Karena tdk mendengar kata salam anda itu, saya tahu sesuatu telah terjadi. Lalu, saya berusaha mencari dan menemukan anda.
What a simple "salam" and 'hello' could lead to million things !!!
Takkan mahal harga dan habis waktu hanya beberapa detik untuk sekedar saling menyapa.
Tanpa pernah mem-beda2kan manusia dgn status sosialnya.
Mari ramah pada semua orang.
Semakin seseorang memahami arti penderitaan
(kelahiran, usia tua, kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan kesusahan, berkumpul dengan yang dibenci, berpisah dari yang dicinta, tidak mendapatkan apa yang diinginkan. .), memahami asal muasalnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya; ia semakin tekun, bersemangat, waspada & berbahagia dalam:
1. Menghindari kejahatan dan segala hal yang tak bermanfaat lainnya
(melalui pikiran, ucapan, & perbuatan)
2. Mewujudkan kebajikan dan segala hal yang bermanfaat lainnya
(melalui pikiran, ucapan, & perbuatan)
3. Berlatih mensucikan, memurnikan, membebaskan pikiran dari TIGA AKAR KEJAHATAN & SEGALA YANG TAK BERMANFAAT, yakni Keserakahan, Kebencian, & pekatnya Ketidaktahuan [Lobha, Dosa, & MOHA],
melalui JALAN MULIA BERUAS 8:
1. PANDANGAN BENAR,
2. Pikiran Benar,
3. Ucapan Benar,
4. Perbuatan Benar,
5. Penghidupan Benar,
6. Daya Upaya Benar,
7. Perhatian/Kewaspadaan Benar [pelaksanaan 4 SATIPATTHANA], dan
8. Konsentrasi Benar.
= = = = = = = = =
".. Demikianlah apa yang seharusnya seorang guru lakukan demi kebaikan murid-muridnya, dengan didasari cinta kasih, telah kulakukan untukmu. Di sana ada akar-akar pohon, gubuk-gubuk kosong, BERMEDITASILAH, para bhikkhu, JANGAN MENUNDA, agar tak datang penyesalan.
Ini adalah pesanku untuk kalian"
~ Pesan Sang Buddha kepada YA Ananda dan para bhikkhu lainnya dalam MN 152 Indriyabhavana Sutta, SN 47.10 Bhikkunupassaya Sutta, AN 7.70 ARAKENANUSASANISUTTA: Betapa Singkatnya Kehidupan, dll.
(kelahiran, usia tua, kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan kesusahan, berkumpul dengan yang dibenci, berpisah dari yang dicinta, tidak mendapatkan apa yang diinginkan. .), memahami asal muasalnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya; ia semakin tekun, bersemangat, waspada & berbahagia dalam:
1. Menghindari kejahatan dan segala hal yang tak bermanfaat lainnya
(melalui pikiran, ucapan, & perbuatan)
2. Mewujudkan kebajikan dan segala hal yang bermanfaat lainnya
(melalui pikiran, ucapan, & perbuatan)
3. Berlatih mensucikan, memurnikan, membebaskan pikiran dari TIGA AKAR KEJAHATAN & SEGALA YANG TAK BERMANFAAT, yakni Keserakahan, Kebencian, & pekatnya Ketidaktahuan [Lobha, Dosa, & MOHA],
melalui JALAN MULIA BERUAS 8:
1. PANDANGAN BENAR,
2. Pikiran Benar,
3. Ucapan Benar,
4. Perbuatan Benar,
5. Penghidupan Benar,
6. Daya Upaya Benar,
7. Perhatian/Kewaspadaan Benar [pelaksanaan 4 SATIPATTHANA], dan
8. Konsentrasi Benar.
= = = = = = = = =
".. Demikianlah apa yang seharusnya seorang guru lakukan demi kebaikan murid-muridnya, dengan didasari cinta kasih, telah kulakukan untukmu. Di sana ada akar-akar pohon, gubuk-gubuk kosong, BERMEDITASILAH, para bhikkhu, JANGAN MENUNDA, agar tak datang penyesalan.
Ini adalah pesanku untuk kalian"
~ Pesan Sang Buddha kepada YA Ananda dan para bhikkhu lainnya dalam MN 152 Indriyabhavana Sutta, SN 47.10 Bhikkunupassaya Sutta, AN 7.70 ARAKENANUSASANISUTTA: Betapa Singkatnya Kehidupan, dll.
Berbakti bukan pasrah
Berbhakti bukan pasrah
Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukanlah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri, tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.
Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan.
Sadhu! sadhu! sadhu!
Referensi:
-Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.
-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.
Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukanlah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri, tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.
Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan.
Sadhu! sadhu! sadhu!
Referensi:
-Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.
-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.
Langganan:
Postingan (Atom)